Rintik hujan-
Temanilah, sejukkanlah rasa yang berkecamuk dalam jiwa.
Jiwa yang seharusnya berdamai dengan jiwa yang lain meski ia justru menolak.
Rintik hujan-
Suburkanlah jiwa yang sering kali terdiam.
Bahkan terhempas, diantara sepoi angin menemani rintik- mendinginkan.
Rintik hujan-
Sembunyikan apa yang telah bergelayut diantara dua bola mata.
Disaksikan dua kaca bergagang disamping meneriaki dan aku malu.
Rintik hujan-
Menggigil tak lagi tertahan, segera hentikan pasukanmu menyerang,
Jangan biarkan hingga bumi gelap, nyanyian malam bersenandung,
Rintik hujan-
Lagi padamu ku bersua.
Tak ada satu telinga, apalagi sepasang untuk mendengar tanyaku.
Rintik hujan-
Kini berganti gerimis.
Apakah diatas sana langit bersama ikhlas membiarkanmu berjatuhan?
Karena, apa yang terlihat belum tentu nyata.
Jika ya, aku hanya ingin ajarkan aku ikhalas, seperti langit yang rela kehilangan berjuta bulir untuk kehadiran hujan.
Rintik hujan-
Apa langit memiliki pembatas?
Karena apa yang tampak tidak pasti kenyataannya.
Jika tidak, ajarkan aku untuk tidak memiliki batasan dalam kelapangan-
Lapang menerima setiap apapun kenyataan.
Rintik- entah masih bersisa hujan atau bahkan gerimis mereda,
Hidup bukan hanya yang kita rasa, maka ejah-lah apa yang tidak mungkin kita lihat.
Hidup tidak selalu seperti apa yang kita inginkan, kemudian sabarlah atas apa yang tidak sesuai dengan harapan.
Cisaga, 14 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar