Jumat, 21 Maret 2014

jeritan hati

bergeming jeritan hati
tak kusangka langitpun mendengar
bintang juga berlari ketakutan

lalu ku langkahkan kaki gontai
kemana? entah kemana..
tak ku temukan arah
meski ku genggam kompas kehidupan

bimbang, hanya bimbang yang menjelma
memenuhi ruang hampa dalam hati
kemarin mungkin aku salah mengerti
tentang kenyataan dan emosi

kemarin mungkin aku salah menemui
orang yang kufikir berarti
namun meninggalkanku sendiri
pergi, mengejar kenangan
yang takan kembali

10 Februari 2014

Kamis, 20 Maret 2014

Ke

Pernah suatu hari kita bersama. Mengukir waktu yang kini kita sebut kenangan. Bersama kalian, ku temukan senyuman, senyuman yang tak ku dapatkan dari yang lain.
Masihkah kalian ingat? Ketika langkah demi langkah kaki menapaki jalan yang belum kita tapaki. Ketika sepasang mata menatap penuh harap pada indahnya alam. Ketika jari telunjuk berlomba menontonkan hebatnya Sang Pencipta manciptakan Alam beserta isinya yang tak ternilai. Selepas itu, baru aku sadar kebersamaan itu telah enyah. Telah berlalu.

Rabu, 19 Maret 2014

Terimakasih, meski tak cukup

Genting itu kini berakhir dengan air mata.
Mengapa setiap perpisahan selalu dibumbui kesedihan dan tangisan?
tapi aku, air mata ini tak bisa keluar.. Seperti meyakinkan Beliau pasti akan kembali. Kembali ke tempat sekarang yg beliau tinggalkan.

Jika kalian baru merasakan akan kehilangan, kalian akan kesepian, maka aku sudah merasakannya saat beliau bilang "sing balageurnya".

Kesedihanpun semakin menjadi. Aku akan selalu ingat, bagaimana beliau mengajarkanku sgalanya.
Terimakasih.
Terimakasih.
Terimakasih.
Memang tak pernah cukup ucap kata Terimakasih meski ku ucap 1000 kali setiap hari untuk sgala ilmu yg telah beliau berikan pada kami.

Maaf, sebatas kata itu saja yg mampu ku ucap untuk segala tingkah, kata, sikap yg pasti sempat menggoreskan luka di hatimu.

Cisaga, 22 Januari 2013