Baru sadar, betapa ternyata aku ngga punya siapa-siapa di sini. 😅
.
Seharusnya membuat aku memilih untuk lebih berani.
.
'Seharusnya' lah itu siapa yang mengharuskan?
Status itu, menyita perhatianmu. Menhadirkan hati lain untuk memberi makna pada hati yang lain pula.
"Jangan posting galau, neng." Katamu di ruang chating.
"Postinglah apa yang bisa orang lain ambil manfaatnya." Katamu lagi.
Aku masih tergugu. Menyaksikan kesendirianku ternyata hanya sebab rasa yang telalu berlebih di sudut sukma. Nyatanya, "Innallaha ma ana, bukan?"
Aku tersenyum.
Menarik nafas, dan mulai kembali menata sepi yang tak lagi bernada.
Kelas, 12 Mei 2016
Rabu, 11 Mei 2016
Selasa, 10 Mei 2016
Lelucon Kehidupan
Hidup kadang selucu itu.
Kita berdampingan namun angan seperti berpisah.
Kita saling sapa namun hati belum tentu merasa bersama.
Ada masa saling memberi semangat, namun ada waktu kita merasa sendiri dalam kebersamaan.
Sepi, bukan soal keadaan kita sendiri. Adalah faktor x akibat dimana kita kurang menikmati apa yang harus di jalani.
Ini tidak selalu benar. Dan tidak setiap orang merasakan. Hanya beberapa dari kita yang melek, mau melihat bahwa lelucon kehidupan--itu nyata.
Nikmati ... Hadapi ... Hayati ...
Indah kok, lama-lama kita tahu, bahwa sendiri adalah candu.
Semakin lama kita sendiri, maka kita akan semakin membutuhkan lebih banyak kepercayaan saat harus bersama.
Done.
Kita berdampingan namun angan seperti berpisah.
Kita saling sapa namun hati belum tentu merasa bersama.
Ada masa saling memberi semangat, namun ada waktu kita merasa sendiri dalam kebersamaan.
Sepi, bukan soal keadaan kita sendiri. Adalah faktor x akibat dimana kita kurang menikmati apa yang harus di jalani.
Ini tidak selalu benar. Dan tidak setiap orang merasakan. Hanya beberapa dari kita yang melek, mau melihat bahwa lelucon kehidupan--itu nyata.
Nikmati ... Hadapi ... Hayati ...
Indah kok, lama-lama kita tahu, bahwa sendiri adalah candu.
Semakin lama kita sendiri, maka kita akan semakin membutuhkan lebih banyak kepercayaan saat harus bersama.
Done.
Rabu, 04 Mei 2016
Re Nun Dal Waw (1)
Berjalan di minggu ke tiga di Jogja. Hujan lama tak turun disini. Membuat keadaan panas. Menyisakan debu-debu bertebaran. Namun, hatiku di hujani kerinduan. Lembab, becek, meski tidak menggenangi sepenuhnya.
Tak pernah menyangka, takdir menuntunku sejauh ini. Merenggangkan temu dengan keluarga. Memisahkan kebersamaan yang biasa tercipta. Malam ini, bersama sisa senja, keheningan dan kesendirian ijinkan aku menulis tentang rindu. Rindu yang takan pernah kurasakan jika tak pernah ada jarak yang membentang.
Yakinlah sejauh apapun sebuah jarak, ada doa yang selalu merucap sepanjang ingatan. Ada komunikasi yang tak pernah putus, selama pulsa dan kuota tersedia. Ealah
Pada akhirnya, tidak ada satu halpun yang bisa membuat kita bertahan atau pergi. Tidak itu janji, cinta, harapan, mimpi. Semua yang harus terjadi menjadi bagian takdir, maka terjadilah.
Aku percaya, pada jalan yang harus dilalui, di sana akan terlukis hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mungkin itu tentang mimpi, harapan, cita, cinta bahkan kehidupan yang baru tentu saja. Atau menjadi perantara untuk kesemua hal tersebut. Kita tak pernah tahu, sebelum semua benar-benar menjadi nyata di bagian kehidupan kita, bukan?
Rindu, di hatiku.
Dia memiliki seruang penuh untuk di singgahi. Kini telah menyesakan dan entah harus beralih keruangan mana untuk menyimpannya.
Melenyapkan segala-gala rasa lain yang kadang tercipta ketika kita harus bersama.
Rindu, entah harus seperti apa aku melenyapkannya. Atau setidaknya tidak membuat gerimis di mataku malam ini dan nanti.
Sebab hariku di sini masih panjang. Sepanjang harapan yang terbentang ke langit menemani bintang~
Piyungan, 26 04 2016
Sabtu, 30 April 2016
Ilusi (1)
Pada seutas hening yang tercipta saat keramaian
Juga pada sunyi ketika kau menyapa angan di kehidupan
Aku diam-diam menyimpan rindu pada kedipan
Menerjemahkan segala tenunan rasa yang harus tercipta saat kau tersenyum
Menatap aku yang melihatmu tanpa menatap
Aku memiliki makna sendiri pada rindu yang terus hidup
Mengartikan tatapanmu dengan sejuta harapan
Menerjemahkan bisu
Mendefinisikan embusan nafas
Mengarahkan jalan hatiku di hari berikutnya
Kenyataan rasa yang telah terpecah-pecah
Hanya untuk menatap siluet tubuhmu
Cukup menyatukan kembali semuanya
Kau percaya?
Aku tidak
Juga pada sunyi ketika kau menyapa angan di kehidupan
Aku diam-diam menyimpan rindu pada kedipan
Menerjemahkan segala tenunan rasa yang harus tercipta saat kau tersenyum
Menatap aku yang melihatmu tanpa menatap
Aku memiliki makna sendiri pada rindu yang terus hidup
Mengartikan tatapanmu dengan sejuta harapan
Menerjemahkan bisu
Mendefinisikan embusan nafas
Mengarahkan jalan hatiku di hari berikutnya
Kenyataan rasa yang telah terpecah-pecah
Hanya untuk menatap siluet tubuhmu
Cukup menyatukan kembali semuanya
Kau percaya?
Aku tidak
Jumat, 29 April 2016
Sang Pemenang
Senyapkan
tutur pada dedoa
Tersemat
pada cita dan harap masih kadang membara
Walau
tertandas ego
Meski
terkubur nyata, aku bukan pendusta!
Tidak
mampu kuhenti rapal akan berucap nama, kau memenangkan nyataku wahai sang
takdir
Kau
... tapi tak bisa merenggut apa yang masih tertanam dalam relung
Aku
senyum pada detik memiliki
Aku
tertunduk pada rintihan
Cisaga,
04 Januari 2016
Jumat, 16 Januari 2015
Sajak Rintik Hujan
Rintik hujan-
Temanilah, sejukkanlah rasa yang berkecamuk dalam jiwa.
Jiwa yang seharusnya berdamai dengan jiwa yang lain meski ia justru menolak.
Rintik hujan-
Suburkanlah jiwa yang sering kali terdiam.
Bahkan terhempas, diantara sepoi angin menemani rintik- mendinginkan.
Rintik hujan-
Sembunyikan apa yang telah bergelayut diantara dua bola mata.
Disaksikan dua kaca bergagang disamping meneriaki dan aku malu.
Rintik hujan-
Menggigil tak lagi tertahan, segera hentikan pasukanmu menyerang,
Jangan biarkan hingga bumi gelap, nyanyian malam bersenandung,
Rintik hujan-
Lagi padamu ku bersua.
Tak ada satu telinga, apalagi sepasang untuk mendengar tanyaku.
Rintik hujan-
Kini berganti gerimis.
Apakah diatas sana langit bersama ikhlas membiarkanmu berjatuhan?
Karena, apa yang terlihat belum tentu nyata.
Jika ya, aku hanya ingin ajarkan aku ikhalas, seperti langit yang rela kehilangan berjuta bulir untuk kehadiran hujan.
Rintik hujan-
Apa langit memiliki pembatas?
Karena apa yang tampak tidak pasti kenyataannya.
Jika tidak, ajarkan aku untuk tidak memiliki batasan dalam kelapangan-
Lapang menerima setiap apapun kenyataan.
Rintik- entah masih bersisa hujan atau bahkan gerimis mereda,
Hidup bukan hanya yang kita rasa, maka ejah-lah apa yang tidak mungkin kita lihat.
Hidup tidak selalu seperti apa yang kita inginkan, kemudian sabarlah atas apa yang tidak sesuai dengan harapan.
Cisaga, 14 Januari 2015
Temanilah, sejukkanlah rasa yang berkecamuk dalam jiwa.
Jiwa yang seharusnya berdamai dengan jiwa yang lain meski ia justru menolak.
Rintik hujan-
Suburkanlah jiwa yang sering kali terdiam.
Bahkan terhempas, diantara sepoi angin menemani rintik- mendinginkan.
Rintik hujan-
Sembunyikan apa yang telah bergelayut diantara dua bola mata.
Disaksikan dua kaca bergagang disamping meneriaki dan aku malu.
Rintik hujan-
Menggigil tak lagi tertahan, segera hentikan pasukanmu menyerang,
Jangan biarkan hingga bumi gelap, nyanyian malam bersenandung,
Rintik hujan-
Lagi padamu ku bersua.
Tak ada satu telinga, apalagi sepasang untuk mendengar tanyaku.
Rintik hujan-
Kini berganti gerimis.
Apakah diatas sana langit bersama ikhlas membiarkanmu berjatuhan?
Karena, apa yang terlihat belum tentu nyata.
Jika ya, aku hanya ingin ajarkan aku ikhalas, seperti langit yang rela kehilangan berjuta bulir untuk kehadiran hujan.
Rintik hujan-
Apa langit memiliki pembatas?
Karena apa yang tampak tidak pasti kenyataannya.
Jika tidak, ajarkan aku untuk tidak memiliki batasan dalam kelapangan-
Lapang menerima setiap apapun kenyataan.
Rintik- entah masih bersisa hujan atau bahkan gerimis mereda,
Hidup bukan hanya yang kita rasa, maka ejah-lah apa yang tidak mungkin kita lihat.
Hidup tidak selalu seperti apa yang kita inginkan, kemudian sabarlah atas apa yang tidak sesuai dengan harapan.
Cisaga, 14 Januari 2015
Rabu, 03 September 2014
Rindu yang akut
Selamat Malam teman. Apa kabar yang pernah singgah di hidupku?
Waktu meisahkan. Jarak menghadirkan kerinduan.
Kini episode baru telah mulai. Pemain-pemain baru hadir
sebagai pemeran menggantikan yang telah berlalu. Kalian yang telah pergi, seolah seperti
hadir kembali. Meski wajah, tingkah mereka tidak seperti kalian yang telah lama
pergi dan memang takkan terganti.
Namun kenangan, masih sering mengiringi paruh langkah yang
aku lewati. Entah apa yang bisa hapus kenangan itu. Kenangan baru yang lebih
indah mungkin. Meski kadang kalian yang telah berlalu datang menyapa pada masa
kini, tapi semua seperti telah selesai. Tidak ada yang harus dilanjutkan. Walau
hati ingin berlanjut, meski rasa yang pernah ada tidak begitu saja sirna, walau
waktu semakin beranjak, perlahan namun pasti memisahkan masa yang telah berlalu
dan semakin berlalu.
Tak ubahnya hati, kadang ada rasa ingin kembali, bersama
kenangan meski tau takkan pernah kembali. Lihatlah kini. Hanya tembok-tembok
yang mulai lusuh kadang seperti tergambar kita dulu ada disini.
Dengarlah apa yang kini dikaji kembali, mengulang yang
pernah dipelajari dulu, itu seperti mendengar suara-suara yang sempat terekam
dalam memori, dalam ingatan. Mungkin inilah rindu.
Rindu mana kala diobati dengan pertemuan, maka rindu itu
bukan lenyap, bukan sembuh malah semakin akut.
Beberapa Photo bareng kalian

Makan Liwet bareng .. :)
Malem-malem ngaji bareng :)
![]() |
Nguseup buat munggahan..
Langganan:
Postingan (Atom)

