Rabu, 04 Mei 2016

Re Nun Dal Waw (1)

Berjalan di minggu ke tiga di Jogja. Hujan lama tak turun disini. Membuat keadaan panas. Menyisakan debu-debu bertebaran. Namun, hatiku di hujani kerinduan. Lembab, becek, meski tidak menggenangi sepenuhnya.
Tak pernah menyangka, takdir menuntunku sejauh ini. Merenggangkan temu dengan keluarga. Memisahkan kebersamaan yang biasa tercipta. Malam ini, bersama sisa senja, keheningan dan kesendirian ijinkan aku menulis tentang rindu. Rindu yang takan pernah kurasakan jika tak pernah ada jarak yang membentang.
Yakinlah sejauh apapun sebuah jarak, ada doa yang selalu merucap sepanjang ingatan. Ada komunikasi yang tak pernah putus, selama pulsa dan kuota tersedia. Ealah
Pada akhirnya, tidak ada satu halpun yang bisa membuat kita bertahan atau pergi. Tidak itu janji, cinta, harapan, mimpi. Semua yang harus terjadi menjadi bagian takdir, maka terjadilah.
Aku percaya, pada jalan yang harus dilalui, di sana akan terlukis hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mungkin itu tentang mimpi, harapan, cita, cinta bahkan kehidupan yang baru tentu saja. Atau menjadi perantara untuk kesemua hal tersebut. Kita tak pernah tahu, sebelum semua benar-benar menjadi nyata di bagian kehidupan kita, bukan?
Rindu, di hatiku.
Dia memiliki seruang penuh untuk di singgahi. Kini telah menyesakan dan entah harus beralih keruangan mana untuk menyimpannya.
Melenyapkan segala-gala rasa lain yang kadang tercipta ketika kita harus bersama.
Rindu, entah harus seperti apa aku melenyapkannya. Atau setidaknya tidak membuat gerimis di mataku malam ini dan nanti.
Sebab hariku di sini masih panjang. Sepanjang harapan yang terbentang ke langit menemani bintang~
Piyungan, 26 04 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar