Sabtu, 30 April 2016

Ilusi (1)

Pada seutas hening yang tercipta saat keramaian
Juga pada sunyi ketika kau menyapa angan di kehidupan
Aku diam-diam menyimpan rindu pada kedipan
Menerjemahkan segala tenunan rasa yang harus tercipta saat kau tersenyum
Menatap aku yang melihatmu tanpa menatap

Aku memiliki makna sendiri pada rindu yang terus hidup
Mengartikan tatapanmu dengan sejuta harapan
Menerjemahkan bisu
Mendefinisikan embusan nafas
Mengarahkan jalan hatiku di hari berikutnya

Kenyataan rasa yang telah terpecah-pecah
Hanya untuk menatap siluet tubuhmu
Cukup menyatukan kembali semuanya
Kau percaya?
Aku tidak

Jumat, 29 April 2016

Sang Pemenang

Senyapkan tutur pada dedoa
Tersemat pada cita dan harap masih kadang membara
Walau tertandas ego
Meski terkubur nyata, aku bukan pendusta!
Tidak mampu kuhenti rapal akan berucap nama, kau memenangkan nyataku wahai sang takdir
Kau ... tapi tak bisa merenggut apa yang masih tertanam dalam relung
Aku senyum pada detik memiliki
Aku tertunduk pada rintihan



Cisaga, 04 Januari 2016

Jumat, 16 Januari 2015

Sajak Rintik Hujan

Rintik hujan-
Temanilah, sejukkanlah rasa yang berkecamuk dalam jiwa.
Jiwa yang seharusnya berdamai dengan jiwa yang lain meski ia justru menolak.
Rintik hujan-
Suburkanlah jiwa yang sering kali terdiam.
Bahkan terhempas, diantara sepoi angin menemani rintik- mendinginkan.
Rintik hujan-
Sembunyikan apa yang telah bergelayut diantara dua bola mata.
Disaksikan dua kaca bergagang disamping meneriaki dan aku malu.
Rintik hujan-
Menggigil tak lagi tertahan, segera hentikan pasukanmu menyerang,
Jangan biarkan hingga bumi gelap, nyanyian malam bersenandung,
Rintik hujan-
Lagi padamu ku bersua.
Tak ada satu telinga, apalagi sepasang untuk mendengar tanyaku.
Rintik hujan-
Kini berganti gerimis.
Apakah diatas sana langit bersama ikhlas membiarkanmu berjatuhan?

Karena, apa yang terlihat belum tentu nyata.
Jika ya, aku hanya ingin ajarkan aku ikhalas, seperti langit yang rela kehilangan berjuta bulir untuk kehadiran hujan.
Rintik hujan-
Apa langit memiliki pembatas?
Karena apa yang tampak tidak pasti kenyataannya.
Jika tidak, ajarkan aku untuk tidak memiliki batasan dalam kelapangan-
Lapang menerima setiap apapun kenyataan.
Rintik- entah masih bersisa hujan atau bahkan gerimis mereda,
Hidup bukan hanya yang kita rasa, maka ejah-lah apa yang tidak mungkin kita lihat.
Hidup tidak selalu seperti apa yang kita inginkan, kemudian sabarlah atas apa yang tidak sesuai dengan harapan.

Cisaga, 14 Januari 2015




Rabu, 03 September 2014

Rindu yang akut

Selamat Malam teman. Apa kabar yang pernah singgah di hidupku? Waktu meisahkan. Jarak menghadirkan kerinduan.

Kini episode baru telah mulai. Pemain-pemain baru hadir sebagai pemeran menggantikan yang telah berlalu. Kalian yang telah pergi, seolah seperti hadir kembali. Meski wajah, tingkah mereka tidak seperti kalian yang telah lama pergi dan memang takkan terganti.
Namun kenangan, masih sering mengiringi paruh langkah yang aku lewati. Entah apa yang bisa hapus kenangan itu. Kenangan baru yang lebih indah mungkin. Meski kadang kalian yang telah berlalu datang menyapa pada masa kini, tapi semua seperti telah selesai. Tidak ada yang harus dilanjutkan. Walau hati ingin berlanjut, meski rasa yang pernah ada tidak begitu saja sirna, walau waktu semakin beranjak, perlahan namun pasti memisahkan masa yang telah berlalu dan semakin berlalu.
Tak ubahnya hati, kadang ada rasa ingin kembali, bersama kenangan meski tau takkan pernah kembali. Lihatlah kini. Hanya tembok-tembok yang mulai lusuh kadang seperti tergambar kita dulu ada disini.
Dengarlah apa yang kini dikaji kembali, mengulang yang pernah dipelajari dulu, itu seperti mendengar suara-suara yang sempat terekam dalam memori, dalam ingatan. Mungkin inilah rindu.
Rindu mana kala diobati dengan pertemuan, maka rindu itu bukan lenyap, bukan sembuh malah semakin akut.

Beberapa Photo bareng kalian

 Makan Liwet bareng .. :)













Malem-malem ngaji bareng :)


















Nguseup buat munggahan..

Jumat, 21 Maret 2014

jeritan hati

bergeming jeritan hati
tak kusangka langitpun mendengar
bintang juga berlari ketakutan

lalu ku langkahkan kaki gontai
kemana? entah kemana..
tak ku temukan arah
meski ku genggam kompas kehidupan

bimbang, hanya bimbang yang menjelma
memenuhi ruang hampa dalam hati
kemarin mungkin aku salah mengerti
tentang kenyataan dan emosi

kemarin mungkin aku salah menemui
orang yang kufikir berarti
namun meninggalkanku sendiri
pergi, mengejar kenangan
yang takan kembali

10 Februari 2014

Kamis, 20 Maret 2014

Ke

Pernah suatu hari kita bersama. Mengukir waktu yang kini kita sebut kenangan. Bersama kalian, ku temukan senyuman, senyuman yang tak ku dapatkan dari yang lain.
Masihkah kalian ingat? Ketika langkah demi langkah kaki menapaki jalan yang belum kita tapaki. Ketika sepasang mata menatap penuh harap pada indahnya alam. Ketika jari telunjuk berlomba menontonkan hebatnya Sang Pencipta manciptakan Alam beserta isinya yang tak ternilai. Selepas itu, baru aku sadar kebersamaan itu telah enyah. Telah berlalu.

Rabu, 19 Maret 2014

Terimakasih, meski tak cukup

Genting itu kini berakhir dengan air mata.
Mengapa setiap perpisahan selalu dibumbui kesedihan dan tangisan?
tapi aku, air mata ini tak bisa keluar.. Seperti meyakinkan Beliau pasti akan kembali. Kembali ke tempat sekarang yg beliau tinggalkan.

Jika kalian baru merasakan akan kehilangan, kalian akan kesepian, maka aku sudah merasakannya saat beliau bilang "sing balageurnya".

Kesedihanpun semakin menjadi. Aku akan selalu ingat, bagaimana beliau mengajarkanku sgalanya.
Terimakasih.
Terimakasih.
Terimakasih.
Memang tak pernah cukup ucap kata Terimakasih meski ku ucap 1000 kali setiap hari untuk sgala ilmu yg telah beliau berikan pada kami.

Maaf, sebatas kata itu saja yg mampu ku ucap untuk segala tingkah, kata, sikap yg pasti sempat menggoreskan luka di hatimu.

Cisaga, 22 Januari 2013